Langsung ke konten utama

Penantian Panjang

Bermula dari hari ini. Hidupku serasa indah memesona. Melebihi cakrawala, melampaui keagungan alam semesta. Memesona karena di dalamnya tersimpan sejuta warna, terekam selaksa peristiwa dan terpendam sekian banyak cita-cita. Semuanya ada dalam hidup. Aku bertanya mengapa ia begitu kaya, mengapa ia sungguh takterperikan. Rahasianya bagai labirin dunia yang tak terselami. Bahkan sekejab saja, aku sudah kehilangan arah. Aku bertanya dan terus bertanya.
Mungkin sudah sekian kalinya aku menengadah menghadap langit.
Rembulan Malam
Memandangi bintang dan rembulan nan jauh di angkasa. Aku tidak bosan dan tak hentinya terkagum-kagum, karena ketika aku berpaling, bintang yang satu sudah lenyap digantikan bintang yang lain.
Bulan pun demikian, sudah semakin menunjukkan keseluruhan auratnya. Dari hari ini ke hari yang lain, sang angkasa dan keindahannya tegak dalam kemegahannya. Ia menyebarkan keindahan kepada siapa saja yang berkenan memandangnya. Ia tidak bosan-bosannya menaungi yang ada di bawahnya. Yah... ia setia di sana.
Hari ini sudah berganti, dari pagi ke siang, sore ke malam, dan malam ke pagi gelap dingin. Ada yang menyadari betapa bahagiannya menantikan guliran hari ini, hitungan detik demi detik, menit ke menit, dan waktu ke waktu. Ruang ini tak terasa setiap saat menjadi. Menjadi sesuatu yang tidak sama dengan kemarin, bahkan sedetik yang lampau dan pasti sepelapas pandang ke masa depan. Berubah dan berubah. Apakah aku ikut berubah? Mungkin ya, mungkin tidak. Dari waktu memang aku berubah, dan dari ruang juga, tetapi bukan dari diriku. Aku tetaplah aku yang kemarin, sekarang dan yang akan datang.
Aku yang kemarin begitu periang. Senyumku tidak pernah pudar ditelan waktu dan candaku tidak pernah lenyap diterjang duka. Semuanya serasa indah memesona. 

Komentar