Langsung ke konten utama

Cinta?

Sudah sering kita mendengar tentang cinta, bahkan mungkin sudah jadi klise. Lalu, mengapa saya masih harus membahasnya di sini?

This is not love
Mari kita sebentar melihat kehidupan di sekitar kita saat ini. Setiap saat, dari informasi pelbagai media, kita mendengar, membaca dan menonton begitu banyak orang yang menderita. Menderita karena apa? Sebagian besar penderitaan itu disumbangkan sesamanya. Tidak percaya? Masihkan kita meragukan itu ketika kita mendengar bahwa seorang ibu rela menjual anaknya, suami membunuh isterinya, anak menganiaya ibunya, seoarang lagi meneror tetangganya? Bukan itu saja, agama yang satu menindas yang lain, warga desa itu menghajar warga desa ini, negara yang satu tidak mengakui kedaulatan negara yang lain, dan masih banyak lagi.

Itulah sepintas realitas dinamika hidup kita. Singkatnya, bumi pertiwi ini bukan lagi tempat dimana kehidupan menemukan kedamaiannya, melainkan menjadi ajang pendulangan penderitaan. Rumah bukan lagi tempat berteduh paling aman, melainkan menjadi neraka kedua. Sekolah bukan lagi tempat mendidik anak-anak bangsa, melainkan mendikte mereka dengan kesombongan dan iri hati. Bahkan rumah ibadat pun tidak lagi sakral, sehingga harus dibakar dan dihancurkan. Mengapa?
CINTA! Itulah jawaban paling tepat. Ada apa dengan cinta? Karena di hidup keseharian kita cinta bukan lagi yang utama. Mengapa cinta yang harus utama? Karena cinta mengandung di dalamnya kepenuhan hidup manusia. Cinta di sini bukanlah cinta yang mengandung sejuta perasaan, bukan pula kenikmatan. Cinta artinya suatu aktivitas/karya/tindakan memberi. Memberi di sini ialah memberi dengan tujuan, alasan, dan cara yang baik, demi suatu kebahagiaan. Memberi apa? Memberi yang paling berharga dalam hidup kita. Sesuatu yang membuat kita menjadi sangat hidup, itulah yang diberi.
Love is together
Mari kita melihatnya dalam fenomena keluarga. Ketika dua orang ingin membangun sebuah keluarga, mereka berkata: "Aku mencintaimu!" Apa artinya ini? Ini berarti 'aku memberi diriku kepadamu seutuhnya untuk memenuhi kamu dengan kebahagiaan.' Diriku yang dimaksudkan adalah keseluruhan, total, lengkap, selesai, sepenuh-penuhnya (whole) hidup. Dengan ini mau dikatakan juga bahwa aku memberi ruang bagimu dalam diriku. jadi, kata "aku mencintaimu" tadi bukan "aku mencintaimu untuk kujadikan milikku" atau apalagi "untuk kujadikan mainanku" atau "untuk kunikmati". Melainkan aku ingin membawamu menuju kebahagiaan.
Mungkin itu dulu yahhhh.......

Komentar