Langsung ke konten utama

MENDIDIK PARA ELIT POLITIK INDONESIA


MENDIDIK PARA ELIT POLITIK INDONESIA

Disusun untuk memenuhi tugas Filsafat Etika

Dosen         : Prof. Dr. Armada Riyanto, CM



Oleh:
C. E. Warto Simamora (0909042000062)

SEKOLAH TINGGI FILSAFAT TEOLOGI WIDYA SASANA
MALANG 2012




Situasi Politik Indonesia
Tidak asing lagi bagi rakyat Indonesia wajah pejabat pemerintah yang terlibat dalam kasus korupsi “Wisma Atlet” yang baru-baru ini selalu menghiasi lembar utama surat kabar dan berita di televisi maupun media informasi lainnya. Dari proses hukum yang disiarkan langsung oleh salah satu televisi swasta, dapat dilihat situasi dan kondisi Indonesia saat ini, terutama di kalangan pejabat pemerintah, sangat memprihatinkan. Para elit politik sibuk dengan keributan masing-masing sementara rakyat resah akan hidupnya hari ini dan masa mendatang. Sangat wajar bila rakyat menjadi resah, sebab nasib mereka berada ditangan para pejabat pemerintah. Rakyat tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menebalkan telinga agar masih bisa mendengar kesemrawutan situasi perpolitikan di Indonesia saat ini.

Fenomena yang marak saat ini ialah campur aduk antara politik dan korupsi. Dikala rakyat mendengar tentang perpolitikan, mereka tidak mau tahu. Tetapi ketika kata korupsi dan koruptor mereka dengar, sepertinya mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi dengan hidup mereka. Mereka merasa dibohongi dan dibodohi oleh mereka yang melakukan korupsi. Mengapa demikian? Karena rakyat merasa bahwa ketika terjadi korupsi, maka uang rakyatlah yang dicuri dari dompet mereka. Lebih parah lagi sebenarnya, bahwa hidup merekalah yang dicuri. Tidak perlu ditanya mengapa. Semua orang tahu bahwa uang negara digunakan untuk menjamin kesejahteraan rakyat. Jika uang itu dicuri, maka mereka akan sengsara.
Sudah sekian lama fenomena korupsi menjadi sorotan di Indonesia, malahan sudah ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bahkan korupsi sudah disebut sebagai budaya baru. Budaya? Menjadi sebuah pertanyaan, sebab budaya menurut Rasid Rachman[1] adalah sebuah gaya hidup masyarakat dan terpelajar dengan menjunjung tinggi norma-norma etika. Dengan budaya dikasudkan bahwa itu yang sudah menjadi kebiasaan yang diakui dalam suatu struktur kemasyarakatan dan menjadi penuntun hubungan antar masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Jika demikian halnya, maka para elit politik telah menjadikan korupsi sebagai budayanya sendiri, walau diakui bahwa menurut pengertian korupsi banyak orang telah melakukannya.
Demikianlah situasinya. Para elit politik menghayati budaya korupsi yang tak bisa dipisahkan dari proses perpolitikan Indonesia. Politik dicampur aduk dengan korupsi (yang dimaksudkan berhubungan dengan uang) atau berpolitik dengan menggunakan uang sebagai sarana untuk mencapai tujuan politik itu sendiri, atau politik digunakan untuk mencapai menghasilkan uang dengan cara illegal. Penulis menamainya sebagai money politik.
Penulis akan mencoba membahas mengenai hal ini lebih jauh dalam ranah perpolitikan Indonesia. Pembahasan ini akan pertama-tama bertanya apakah manusia itu, kemudian melihat hubungan manusia dengan manusia lainnya. Setelah itu pengertian dan pemahaman politik sampai pada suatu bonum comunae suatu bangsa. Hal ini menjadi suatu yang urgent bagi para elit politik Indonesia. Tulisan ini bersumber dari buku “Aku & Liyan”, tulisan Prof. Dr. Armada Riyanto.[2]

Apakah Manusia itu?
Apakah manusia adalah pertanyaan menggelisahkan bagi manusia itu sendiri. Pertanyaan ini akan menguras akal budi manusia. Pertanyaan ini sekaligus bermaksud mengungkap adanya manusia. Jawaban berbeda-beda. Adalah psikologi yang melihat manusia sebagai animal rationale; manusia adalah biatang yang berakalbudi. Di sisi lain, adalah Darwinian (kalau bisa disebut demikian) dengan teori evolusinya menyatakan bahwa manusia berasal dari spesies terdahulu yang mengalami proses evolusi sampai pada seperti apa yang sekarang kita lihat dan hidupi. Lain halnya dengan sosiologi melihat manusia dari segi relasi manusia dalam kehidupan sosialnya. Dan masih banyak pandangan lainnya.
Menarik bahwa filsafat melihatnya secara berbeda dan sekaligus menjadi kritikan terhadap pandangan lain tentang apakah manusia itu. Pertanyaan kritis bagi psikologi adalah apakah manusia dilihat sebagai binatang dan hanya memiliki kelebihan dari segi akalbudinya? Bagaimana kita membandingkan dua hal real sangat berbeda satu dengan yang lain dan memiliki kesamaan sekaligus? Lagi terhadap Darwinian, sekalipun memiliki kemiripan fisik, bagaimana harus dikatakan manusia berasal dari sinpanse atau kera; kalau demikian maka manusia akan menjadi apa? Jawaban sosiologi kiranya menjawab berbeda dan mendekari realitas kehidupan manusia, tetapi belum memberi keterangan cukup bagi eksistensi manusia, yaitu manusia adalah itu yang berelasi, dan membangun suatu kelompok (masyarakat) manusia yang memiliki tujuan dan cita-cita bersama.
Bagaimana filsafat memahami pertanyaan di atas? Ada juga berbagai pengertian. Manusia adalah “aku berpikir, maka aku ada” cogito ergo sum demikian Descartes memberi pengertian akan manusia. Bagi Sokrates, manusia adalah jiwa sedangkan badan atau tubuh adalah pengekang jiwa. Kemudian Plato menambahkan bahwa kodrat manusia adalah “jiwa” dan badan adalah “penjara” bagi jiwa. Pemahaman seperti ini disebut dualisme. Dengan jiwa, Plato memaksudkan bahwa manusia tidak cukup hanya dilihat dari fisik semata; “Ada” manusia itu utuh, universal. Dengan Descartes, manusia menempati posisi yang lebih jelas bahwa “aku” adalah “subjek.” Ada manusia adalah itu “subjek”. Subjektivitas ini berarti aku yang berpikir, berefleksi, mencari apa yang sejati, memiliki kesadaran, dan mengikuti Socrates, manusia adalah itu yang mencari kebenaran.
Apa hubungan pemahaman manusia akan pertanyaan “apakah manusia itu?”dengan perpolitikan dan elit politik itu sendiri. Secara umum mereka ini adalah pejabat pemerintah yang memerintah rakyat yang adalah manusia. Mereka memerintah manusia-manusia. Inilah suatu hal penting harus dimengerti. “Know yourself” adalah kebajikan seorang pemimpin dan dalam hal ini adalah para pejabat pemerintah atau para elit politik. Dengan mengetahui rakyatnya adalah manusia, seperti dirinya adalah manusia, para elit politik akan memerintah secara manusiawi dan demi kemanusiaan itu. Sebab ia tahu bahwa ia memerintah dirinya sendiri, sehingga apa yang ia lakukan untuk dirinya, dilakukan juga untuk orang lain. Ketika ia mengambil kebijakan untuk mensejahterakan rakyatnya, ia mensejahterakan dirinya juga. Rakyat bukan binatag atau tumbuhan yang dapat dieksploitasi sesuka hatinya, sebagai pemenuhan kebutuhan sandang dan pangannya, tetapi manusia adalah “aku”-nya para elit politik.

“Aku” dan Yang Lain/ The Others
Ketika “aku” dimengerti sebagai “subjek” memaksudkan bahwa aku yang beraktivitas, sadar, berefleksi dan mencari kebenaran. Aku adalah itu yang sadar akan hidupku. Hidupku adalah keseluruhanku; keseharianku, pengalamanku, pengembaraanku, suka-dukaku, kebahagiaanku. Aku bukan hanya kekayaanku, uangku, jabatanku, mobilku, kecantikanku. Manusia adalah aku dalam keseluruhan hidupnya.
Dalam hidupku aku berhadapan dengan “yang lain”. Siapakah “yang lain”? Apakah “yang lain” itu yang berbeda dengan aku atau yang lain sama sekali dengan aku? Ketika mendengar suatu kecelakaan bus baru-baru ini dan menewaskan belasan orang atau ketika melihat korban gempa, serentak kita merasa pilu dan entah itu apa, yang jelas ada sesuatu yang tergerak dalam diri kita. Dari sini kita berangkat untuk melihat siapa “yang lain”. Yang lain itu berarti yang lain dari kemanusiaan “aku”; yang lain adalah itu yang tidak memiliki kemanusiaan. Selama ia adalah manusia, ia adalah aku. Inilah konsekuensi subjektivitas manusia. “Ada”  manusia adalah ada yang satu, terpadu, utuh, dan indah. Dengan demikian, manusia “lain” bukanlah “yang lain” sejauh itu manusia. “Yang lain” berarti berbeda dengan kemanusiaan aku, terpisah dari ada aku sebagai manusia. “Aku” yang lain, bukanlah aku yang “lain” samasekali. Realitas ini adalah realitas keterpaduan, tetapi tidak penuh. Di satu sisi manusia itu utuh dan terpadu, tetapi di sisi lain ia belum lengkap. Ketidak-lengkap-an mengandaikan bahwa manusia membutuhkan suatu relasi dialogal. Manusia adalah itu yang berelasi. Manusia adalah “aku” yang hidup bersama dengan “aku” yang lain; suatu relasi antar subjek, bahwa dalam kemanusiaan “aku”, objek tidak mungkin ada.
Dengan melihat keterpaduan manusia dalam apa yang disebut “subjektivitas” dan bahwa “yang lain” adalah aku, adalah menyalahi subjektivitas itu bila manusia saling meniadakan satu dengan yang lain. Seperti para elit politik – yang telah mencuri uang (hidup) rakyat – demikianlah bila manusia meniadakan subjektivitas. Ia mengasingkan diri dari subjektivitas. Pertanyaan mereka seharusnya demikian: Apakah aku manusia?
Politik?
“Politik sesungguhnya juga adalah lapangan refleksif tentang keseharian,” demikian Prof. Dr. F. X. Armada Riyanto[3] memberi pengertian yang mendalam tentang politik. Apa artinya ini? Politik berkaitan dengan hidup bersama. Politik identik dengan perebutan kekuasaan. Apalagi di Indonesia, politik hanya dimengerti oleh mereka yang dianggap sebagai politikus. Dengan ini maka politik menjadi milik segelintir orang. Tetapi politik tidak seperti itu. Di atas sudah dikatakan bahwa politik adalah lapangan refleksif tentang hidup keseharian. Ketika setiap orang merefleksikan hidup kesehariannya, saat itu pula ia sedang berpolitik. Dengan refleksif, masih mengikuti Armada Riyanto, hendak mengatakan bahwa aktivitas mencari kebenaran terdalam, masuk ke kedalaman hidup keseharian. Aktivitas refleksif tidak puas dengan aneka kebenaran artifisial, tempelan, hiasan dan kebohongan. Berpolitik dengan demikian adalah aktivitas mencari kesejatian hidup keseharian.
Di Indonesia, kita tidak menemukan pengertian politik seperti ini. Politik telah direduksir ke dalam aktivitas perebutan kekuasaan dengan cara apapun, saling menghancurkan dan saling makan satu dengan yang lain. Berbanding terbalik dengan pengertian di atas. Dengan pemahaman politik sebagai aktivitas refleksif, politikus Indonesia mungkin tidak bisa lagi menatap rakyatnya. Mengapa? Kembali pada pengertian apakah manusia dan aku dan “yang lain”. Dalam pengertian mereka, dengan melihat konstelasi perpolitikan Indonesia, manusia adalah itu yang berbeda sama sekali dengan “yang lain”; manusia adalah penguasa. Bagi mereka manusia bukan keseluruhan, keterpaduan, keutuhan subjektivitas. Bagi mereka, dengan pengertian yang salah akan manusianya Descarte, manusia adalah ”aku yang berpikir”, sedangkan yang lain tidak berpikir. Bagi mereka, manusia adalah  manusia bila ia mencari kekayaan dan lain sebagainya yang artifisial belaka. Aktivitas refleksif tidak masuk dalam kesadaran mereka. Pertanyaan mereka seharusnya, jika masih bisa berefleksi, adalah apakah aku politikus atau poli-tikus?

Demokrasi Salah Kaprah ketika Uang Ambil Bagian
Pemerintahan Indonesia telah sekian tahun menjalankan sistem pemerintahan demokratis. Inilah impian para pelopor demokrasi. Bila mau jujur, pemerintahan yang diimpikan itu tidak juga mencapai cita-cita sebenarnya. Ada kelebihan sistem ini dan ada juga kelemahan. Demokrasi seperti asal katannya demos adalah  rakyat dan kratein adalah berkuasa, adalah rakyat yang memiliki kuasa[4]. Impian sempurna bahwa rakyat berhak secara bebas memilih pemimpinnya. Di sinilah letak kelemahan itu, ketika rakyat memiliki cukup kebijakan dan pengetahuan, maka ia akan memilih pemimpin yang juga memiliki kemampuan untuk memimpin rakyatnya, tetapi jika tidak, maka pemerintahan tidak lebih dari pemerintahan yang asal-asalan. Suara terbesar itulah yang berhak memimpin, walaupun tidak kompeten di bidangnya.
Dalam praktek pemerintahan demokratis seperti ini, ketika uang ambil bagian, pemerintahan tidak lagi menjalankan sistem demokrasi yang sebenarnya. Untuk pertama kalinya sistem demokrasi diproklamirkan pada masa silam, mereka tentu tidak memberi ruang bagi uang atau belum memikirkan hal itu. Tetapi pada zaman sekarang, ketika “uang adalah segalanya”, suara rakyat bisa dibeli. Mulut bisa disumbat dengan uang, kebijakan bisa dokontrol dengan uang, tujuannya pun adalah uang. Itulah realitas saat ini. Pada akhirnya, bukan lagi suara terbanyak berhak memimpin, melainkan siapa punya uang banyak berhak memimpin. Tidak heran, demi mengembalikan uang yang telah habis untuk menyumbat mulut dan membeli suara, kekuasaan disalah-gunakan. Dengan demikian, sebenarnya pemerintahan Indonesia tidak memeluk sistem pemerintahan demokratis, melainkan sistem pemerintahan monarki dan oligarki sekaligus dalam balutan selimut demokratis. Ketika praktek pemerintahan seperti ini tetap berlangsung dan bertumbuh dengan subur, demokrasi hanya sebua impian atau bisa juga disebut obat tidur dan antimo, alat untuk meninabobokan.

Bonum Comunae
Bonum comunae atau kesejahteraan umum adalah tujuan setiap negara.[5] Negara Indonesia ada untuk kesejahteraan rakyatnya. Kesejahteraan dalam hal apa? Kesejahteraan umum sebagai manusia. Apa yang dimaksudkan bukan hanya kesejahteraan material semata seperti terpenuhinya sandang-pangan, melainkan juga kesejahteraan hakiki manusia sebagai manusia. Seperti sudah dipaparkan di atas bahwa manusia adalah itu yang mencari kebenaran, keadilan, dan mendambakan kepenuhan. Ia juga itu yang relasional. Kebenaran manusia sebagai manusia tidak mungkin diukur dan digantikan dengan uang. Keadilan yang didambakan manusia tidak cukup hanya memberi dia makan kenyang, tempat tidur empuk, dsb (itupun di Indonesia belum terpenuhi). Manusia sangat tidak mungkin dikekang dalam kesendiriannya, pengasingan, pengucilan, per-marginal-an. Ia butuh berelasi.
Inilah kesejahteraan umum, yaitu terpenuhinya kemanusiaan rakyat Indonesia. Suatu impian yang tidak mungkin pula terealisasi di tengah perebutan kekuasaan dan aneka kepentingan para poli-tikus dan politisi. Kesejahteraan umum hanya mungkin tercapai dengan kejujuran para elit politik pada kemanusiaan mereka atau kesadaran para elit politik dengan “aku”-nya. Ketika kemanusiaan menempati tempat utama, maka yang ia cari adalah kebenaran, keindahan, keadilan, dan kedalaman. Yang terjadi saat ini merupakan pendangkalan pemahaman akan kemanusiaan. Suatu hal kodrati yang telah hilang dari kemanusiaan para elit politik. Para elit politik boleh anggun, gagah, kaya, banyak omong, dsb, tetapi bila itu hanya sesuatu yang artifisial, tempelan dan dangkal, semakin dangkal, artifisial, dan tempelan pula ia dalam kemanusiaanya. Ia merendahkan kemanusiaannya. Ia tidak mendambakan kepenuhan. Para elit politik, koruptor dan para pejabat, tentu tidak ingin merendahkan kemanusiaanya dengan yang artifisial dan dangkal itu. Sangat perlu dan penting mereka tahu bahwa ia mesti mengejar itu yang sejati, indah, dan utuh untuk memerintah Bangsa dan Negara Indonesia demi tercapainya kesejahteraan umum, serta terpenuhinya kemanusiaan manusia-manusia Indonesia secara keseluruhan.



DAFTAR PUSTAKA
Bertens, K. Perspektif Etika. Jakarta: Penerbit Kanisius, 2001.
Isdaryanto, Johanes Bosco. Filsafat Sosial, sebuah diktat: 2005.
Rachman, Rasid. Korupsi Kok sebagai Budaya, dalam Intisari Februari 2011.
Riyanto, Armada, Prof. Dr., CM. Filsafat Aku dan Liyan, dalam Aku & Liyan, Malang: Widya Sasana Publication, 2011.
­________. Berfilsafat Politik. Jakarta: Penerbit Kanisius, 2011.


[1] Rasid Rachman, Korupsi Kok sebagai Budaya, dalam Intisari, February 2011, hlm. 104-105.
[2] Prof. Dr. Armada Riyanto, CM, dalam Aku & Liyan, Malang: Widya Sasana Publication, 2011.
[3]Prof.Dr. E. Armada Riyanto. Berfilsafat Politik. Jakarta: Penerbit Kanisius, 2011. Hlm. 39.
[4] K. Bertens. Perspektif Etika. Jakarta: Penerbit Kanisius, 2001. Hlm. 51.
[5] Johanes Bosco Isdaryanto, Filsafat Sosial, sebuah diktat: 2005. Hlm. 38

Komentar