Senggama adalah kata yang mungkin akan membuat muka seseorang memerah jika mengucapkannya. Mengapa?
Senggama bersinonim dengan berhubungan sex atau hubungan intim (yang biasanya dihubungkan dengan hubungan sex untuk sumi isteri) atau kolaborasi seksual atau berbuat mesum. Senggama in se (dari sendirinya) adalah baik dan natural. Biasa, karena senggama, dalam tujuannya, adalah untuk menghasilkan anak, regenerasi, reproduksi (kata ini kiranya kurang tepat dalam artian manusiawi, sebab manusia tidak sepantasnya dianggap hasil). Intensi utama senggama adalah itu yang pada akhirnya akan menciptakan manusia baru. Itu adalah tindaka alamiah ketika kegiatan itu dibandingkan dengan binatang.
Seiring perjalanan waktu dan perubahan
(perkembangan dan kemunduran) realitas manusia, makna itu mengalami pergeseran makna/nilai (moral) dan tujuan. Perubahan makna, ketika senggama dianggap negatif dan perubahan tujuan, ketika ditujukan untuk memeroleh kenikamatan semata (psikologi). Penilaian moral terhadap senggama sebagai negatif timbul ketika nilai senggama antara suami isteri dianggap (agama, sosial-masyarakat) wajar dan luhur. Memang inilah ukuran dasarnya, bahwa ketika suami-isteri berhubungan sex (wajar-tidak di depan umum) tidak ada penilaian moral sebagai salah. Dengan sendirinya, senggama, yang dilakukan oleh pihak yang bukan suami-isteri, adalah tindakan negatif, tidak beretika, dan tercela. Jadi, konfrontasi senggama dengan nilai masyarakat adalah indikasi paling diakui.
(perkembangan dan kemunduran) realitas manusia, makna itu mengalami pergeseran makna/nilai (moral) dan tujuan. Perubahan makna, ketika senggama dianggap negatif dan perubahan tujuan, ketika ditujukan untuk memeroleh kenikamatan semata (psikologi). Penilaian moral terhadap senggama sebagai negatif timbul ketika nilai senggama antara suami isteri dianggap (agama, sosial-masyarakat) wajar dan luhur. Memang inilah ukuran dasarnya, bahwa ketika suami-isteri berhubungan sex (wajar-tidak di depan umum) tidak ada penilaian moral sebagai salah. Dengan sendirinya, senggama, yang dilakukan oleh pihak yang bukan suami-isteri, adalah tindakan negatif, tidak beretika, dan tercela. Jadi, konfrontasi senggama dengan nilai masyarakat adalah indikasi paling diakui.
Akan tetapi, bagaimana jika senggama itu dilakukan hanya untuk memeroleh kepuasan dan kenikmatan? Kita tahu, baik bukan suami-isteri maupun tidak, bahwa bisa saja senggama hanya untuk kenikmatan. Artinya, apa landasan dasar agama, masyarakat, dll. yang mengakui senggama sebagai tidak negatif dilakukan oleh suami-isteri, belum jelas. Bila itu datang dari "atas", artinya dari hyang khalik (Allah), dimanakah letak keabsahannya, di mana manusia sekarang ini sudah memiliki pandangan yang beragam; ada yang percaya Allah, ada juga tidak.
Bagaimana menilai senggama sebagai sebuah negatif dalam kasus berikut: Aku bersama dengan pacarku sepakat untuk berhubungan seks, meskipun kami tidak menikah, dengan tujuan agar kami berdua mengalami kepenuhan batin dan raga. Setelah berhubungan, kami menikmatinya dan kami merasakan suatu rasa yang bahagia, menjadikan kami semangat untuk membatu sesama (karena dalam senggama ada unsur saling memberi dengan tulus dan demi kebaikan keduanya), juga menjadikan kami semakin dekat dan saling mencintai satu dengan yang lain. Tidak ada orang yang melihat kami, tidak juga kami membuat orang merasa malu, tidak juga menggoda orang lain untuk melakukan seperti yang kami lakuka, dan kami tidak pernah mengbarnya kepada orang lain. Apakah perbuatan kami itu dapat dikatakan sebagai perbuatan tidak bermoral dan menjadi batu sandungan bagi orang lain (moral: sejauh tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, tidak ada konsekuensi moral)?
Selengkapnya akan dipostkan kemudian........
Komentar
Posting Komentar